BRMP Dorong Pertanian Modern di Soppeng, Produktivitas Tembus di Atas 10 Ton per ha
Soppeng, Sulawesi Selatan – Hamparan padi menguning di Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, menjadi saksi keberhasilan penerapan pertanian modern yang digagas Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian. Panen Perdana Penerapan Modernisasi Pertanian dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Mandiri Benih Padi yang digelar pada Rabu (28/1/2026) ini bukan sekadar kegiatan panen, melainkan wujud nyata transformasi pertanian menuju sistem yang lebih efisien, presisi, dan berkelanjutan. Inisiatif ini sekaligus memperkuat fondasi kawasan mandiri benih padi sebagai penopang keberlanjutan swasembada beras nasional yang telah tercapai. Kegiatan ini didukung oleh Competitive Grant Integrated Corporation of Agricultural Resource Empowerment (ICARE) dari Bank Dunia, yang berperan dalam mendorong percepatan penerapan inovasi dan teknologi pertanian modern.
Kegiatan dipusatkan pada demonstration plot seluas 5 hektar yang terintegrasi dalam hamparan lahan seluas 60 hektar. Panen dilakukan terhadap pertanaman padi yang dimulai sejak 20 Oktober 2025 dan dipanen tepat pada umur 100 hari, yakni tanggal 28 Januari 2026. Proses panen dilaksanakan menggunakan combine harvester oleh Kepala BRMP Tanaman Pangan bersama Wakil Bupati Soppeng, sebagai simbol penerapan mekanisasi pertanian modern yang mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Selain panen, di lapangan juga diperagakan demonstrasi pengangkutan hasil gabah sebagai bagian dari penerapan teknologi pascapanen terintegrasi, yang bertujuan menjaga mutu gabah sejak dari lahan hingga ke titik pengumpulan. Hasil ubinan yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Soppeng menunjukkan capaian produktivitas yang menggembirakan, dengan varietas Inpago 12 mencapai rata-rata 10,4 ton per hektar dan varietas Inpago 8 sebesar 9,7 ton per hektar gabah kering panen (GKP). Capaian ini menegaskan bahwa penerapan paket teknologi modern secara terpadu tidak hanya meningkatkan efisiensi budi daya, tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan produktivitas hasil padi. Selanjutnya acara secara khidmat dibuka secara resmi, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars BRMP, pembacaan doa, serta foto bersama yang melibatkan pejabat, penyuluh, dan kelompok tani binaan sebagai pelaku utama di lapangan.
Laporan kegiatan disampaikan oleh Dr. Nuning Argo Subekti, SP., M.Si., selaku Ketua Kelompok Kerja Kerja Sama dan Penyebarluasan Hasil BRMP Tanaman Pangan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini menerapkan paket teknologi secara terintegrasi, mulai dari analisis kesuburan tanah menggunakan soil test kit, pemilihan varietas padi Inpago 8 dan Inpago 12 yang memiliki karakteristik agronomis unggul berupa malai lebat, sistem perakaran kuat, serta benih yang telah melalui proses perkecambahan awal (pre-germinated) sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang seragam dan adaptif terhadap kondisi lahan. Penerapan teknologi tersebut diperkuat dengan pemanfaatan aplikasi Layanan Konsultasi Padi sebagai dasar rekomendasi pemupukan presisi, sistem tanam benih langsung (tabela) dengan pola jajar legowo 6:1, penggunaan pupuk organik cair, serta aplikasi herbisida dan pestisida menggunakan pesawat nirawak (drone). Selain itu, pengendalian organisme pengganggu tanaman dilakukan secara ramah lingkungan melalui penerapan teknologi Trap Barrier System (TBS) untuk menekan serangan hama tikus, serta inovasi alat pengusir hama burung berbasis suara yang ditenagai panel surya, sehingga lebih efisien, berkelanjutan, dan minim dampak lingkungan. Seluruh rangkaian budi daya didukung pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern secara penuh, mulai dari pengolahan lahan hingga panen. Keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi erat antara BRMP Tanaman Pangan, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan, Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng, mitra lapangan, serta Kelompok Tani Karuna, yang diharapkan terus berlanjut dan diperluas pada tahun 2026 dengan cakupan lahan dan jumlah petani yang lebih besar, sejalan dengan arahan Menteri Pertanian untuk konsisten mengimplementasikan modernisasi budi daya padi guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Sambutan Kepala BRMP yang dibacakan oleh Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA menegaskan bahwa modernisasi pertanian merupakan kebutuhan mendesak di tengah tantangan penurunan tenaga kerja, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, serta tuntutan peningkatan produktivitas dan daya saing. BRMP berperan sebagai jembatan inovasi melalui perakitan, pengujian, pendampingan, dan percepatan adopsi teknologi di tingkat petani. Ia juga memaparkan capaian nasional tahun 2025, di mana produksi beras mencapai 34,7–34,8 juta ton atau meningkat 13–14 persen dengan luas panen sekitar 11,3 juta hektar. Di Sulawesi Selatan, produksi gabah kering giling mencapai 5,40 juta ton atau naik 12,05 persen, yang mendorong produksi beras konsumsi hingga 3,10 juta ton. Capaian ini menjadi bukti keberhasilan sinergi kebijakan, mekanisasi, pengembangan kawasan perbenihan, serta kebijakan harga yang berpihak pada petani.
Sementara itu, sambutan Bupati Soppeng yang disampaikan Wakil Bupati Ir. Selle KS Dalle menegaskan bahwa Kabupaten Soppeng memiliki potensi geografis yang kuat di sektor pertanian. Penerapan sistem pertanian modern Arkansas diawali dengan pembentukan Brigade Pangan sebagai sarana pengenalan teknologi modern kepada petani. Menurutnya, proses uji coba merupakan bagian dari pembelajaran menuju perbaikan berkelanjutan, di mana keberhasilan ditentukan tidak hanya oleh teknologi, tetapi juga kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Kegiatan ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian dalam mendukung Asta Cita Presiden serta membuka peluang kerja sama pengembangan pertanian di Kabupaten Soppeng ke depan.
Rangkaian acara ditutup dengan suasana semarak melalui penyerahan bantuan benih diseminasi secara simbolis kepada petani dari BRMP Sulawesi Selatan, yang dilanjutkan dengan testimoni petani binaan mengenai keberhasilan mereka dalam menerapkan teknologi pertanian modern. Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 11.30 WITA ini mendapat dukungan pendanaan dari CG ICARE Bank Dunia yang berfokus pada penguatan rantai nilai pertanian yang berkelanjutan dan inklusif. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini menjadi dasar pengembangan lanjutan, di mana pada tahun 2026 penerapan teknologi pertanian modern akan kembali dilaksanakan dengan cakupan yang lebih luas, yakni mencapai 20 hektar, guna memperluas dampak dan manfaat bagi petani serta memperkuat diseminasi pertanian modern di Kabupaten Soppeng.
Panen perdana di Kabupaten Soppeng ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BRMP, mitra internasional, serta petani sebagai pelaku utama mampu mendorong terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. Ke depan, model penerapan modernisasi pertanian ini diharapkan dapat direplikasi secara lebih luas di berbagai wilayah, sehingga tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkokoh swasembada beras dan menjadikan sektor pertanian sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional.